Mamapedia Logo
Bayi Kembung dan Mencret? Bisa Jadi Karena 3 Hal Ini

Penyebab Bayi Kembung dan Mencret yang Jarang Disadari Orang Tua, Moms Wajib Tahu!

author iconIka
date icon06 02 2021
category iconGizi & Kesehatan, Menyusui, Tumbuh Kembang Anak,

Perut kembung termasuk keluhan yang lumrah dialami bayi berusia hingga tiga bulan. Sistem pencernaan yang belum sempurna membuat tubuh bayi mudah bereaksi terhadap pelbagai perubahan pola makan.

Ketika perut bayi kembung, ia memerlukan bantuan untuk mengeluarkan gas berlebih dalam saluran pencernaannya. Supaya lekas teratasi, mari lebih cermat mengenali gejala perut kembung pada bayi, ya.

* Tiba-tiba rewel atau menangis tanpa sebab yang jelas.
* Perut bayi terasa kencang.
* Beberapa kali buang angin dalam jeda yang singkat.
* Menggeliat atau melengkungkan punggung dan mengangkat kedua kaki.

Moms, was-was itu perlu. Tapi secukupnya saja, ya. Jika was-was berlebih, Moms akan sulit tenang. Akibatnya, bisa jadi, keluhan perut kembung Si Kecil kian sulit teratasi. Berikut cara mengatasi perut kembung pada bayi, ya. Ingat, pastikan Moms terlebih dahulu tenang.

  • Posisikan bayi telentang di atas kasur, lalu gerakkan kedua kaki bayi seperti mengayuh sepeda. Cara ini dapat membantu bayi mengeluarkan gas dari perutnya.
  • Dalam posisi bayi telentang, Moms dapat memberi pijatan lembut pada perut bayi. Lakukan dengan gerakan memutar yang searah jarum jam.
  • Letakkan bayi dengan posisi telungkup yang bertopang pada kedua paha Moms. Kemudian, usap-usap punggung bayi hingga buang angin atau bersendawa.

Saat baru lahir, bayi akan mengeluarkan tinja berwarna hijau pekat atau kehitaman yang disebut dengan mekonium. Seiring pemberian ASI, tinja bayi akan berwarna kekuningan, teksturnya lembek dan cair. Bayi ASI akan buang air besar hingga lima sampai enam kali sehari. Ketika usianya melewati satu bulan, kegiatan buang air besarnya berkurang menjadi satu hingga dua kali sehari.

Adakalanya Moms sulit mengenali bayi mencret setelah menyusu. Apakah bayi benar-benar mencret atau hanya buang air besar lebih lembek dari biasanya. Bayi disebut mencret jika ia buang air besar berurutan selama tiga kali atau lebih dalam bentuk encer. Jika baru sekali, kemudian ada perubahan pola makan, maka belum dapat disebut mencret.

Tiga sampai lima kali mencret masuk dalam skala ringan. Sementara, mencret lebih dari sepuluh kali disebut skala berat dan butuh penanganan medis. Tekstur tinja bayi mencret berwarna kuning kadang hijau, lebih berair, dan lebih berbau.

Terdapat 3 penyebab mencret yang paling sering dialami oleh Si Kecil, yaitu terinfeksi virus Rotavirus, terinfeksi bakteri, dan intoleransi makanan.

  1. Rotavirus

Infeksi usus akibat rotavirus adalah penyebab paling umum bayi mencret. Penyakitnya disebut gastroenteritis, dimana infeksi menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan Si Kecil. Imbasnya, nutrisi makanan yang masuk sulit terserap secara sempurna dan keluar berbentuk cairan. Sebagai langkah pencegahan, pastikan Moms telah memvaksinasi Si Kecil dengan vaksin rotavirus.

Vaksin ini tersedia dalam 2 bentuk, Monovalen dan Pentavalen. Perbedaan keduanya terletak pada jumlah jenis virus yang dikandung dalam satu vaksin. Vaksin monovalen berarti mengandung satu jenis virus, sedangkan pentavalen mengandung lima jenis virus. Rotavirus monovalen diberikan sebanyak dua kali.

Baca juga: Jadwal Imunisasi Bayi 0-6 Bulan

Dosis pertama diberikan saat bayi berusia 6-10 minggu, dosis kedua diberikan interval 4 minggu dari pemberian dosis pertama. Imunisasi ini harus selesai saat bayi berusia 24 minggu. Rotavirus pentavelen diberikan tiga kali, dosis pertama saat Si Kecil berusia 6-10 minggu, dosis kedua dan ketiga berjarak 4-10 minggu dari waktu pemberian dosis pertama. Batas akhir pemberian vaksin ini ketika bayi berusia 32 minggu.

  1. Infeksi Bakteri

Bakteri seperti Salmonela sebenarnya jarang menjadi penyebab bayi mencret. Namun, bisa saja Si Kecil mencret karena kontaminasi bakteri akibat perilaku hidup budaya sehat (PHBS) yang kurang diterapkan dengan baik. Salah satu tanda bayi mencret karena infeksi bakteri ialah terdapat bercak darah pada tinja bayi. Oleh karena itu, biasakanlah mencuci tangan setelah beraktivitas di toilet, setelah mengganti popok Si Kecil, atau Moms mensterilkan peralatan makan minum bayi sebelum digunakan.

  1. Intoleransi Laktosa

Pada bayi ASI yang mencret, Moms perlu mengamati apakah Si Kecil memiliki kecenderungan intoleransi laktosa atau gangguan pencernaan akibat tubuh tidak dapat mencerna laktosa. Kondisi ini ditandai dengan bayi mencret, kembung, dan sering buang angin. Moms perlu merunut ulang telah mengonsumsi apa selama proses menyusui, serta menghindari makan minum yang mengandung laktosa seperti susu, keju, dan turunannya.

Baca juga: Catat, Makanan ini Harus Dihindari Ibu Menyusui

Bahaya yang mengancam dari bayi yang mencret ialah dehidrasi atau kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang didapatkan. Mencret pada bayi lebih berbahaya daripada orang dewasa. Sebab, bayi bisa mengalami dehidrasi lebih cepat.

Jika bayi Moms berusia di bawah 3 bulan, ia mencret disertai demam, mulut kering, mata cekung, gelisah, rewel, serta tidak buang air kecil selama lebih dari 3 jam, sebaiknya segera ke dokter. Dehidrasi berat pada bayi akan mengakibatkan kesadarannya menurun, tangan kakinya dingin, kejang-kejang, bahkan kematian.

Untuk mencegah dehidrasi, pastikan Si Kecil mendapat cukup cairan. Bayi di atas 6 bulan dapat diberikan larutan oralit, minumkan tablet atau sirup zync selama 10 hari berturut-turut, juga diberi makanan padat seperti nasi, pisang, roti kering atau kentang tumbuk.

Share IconBagikan Artikel

Facebook ShareTwitter Share
YOU MAY ALSO LIKE