Mamapedia Logo
Apa Itu Infeksi Vagina? Kenali Gejala, Penyebab, dan 6 Jenisnya

Apa Itu Infeksi Vagina? Kenali Gejala, Penyebab, dan 6 Jenisnya

author iconDinda Ayu Saraswati
date icon10 05 2021
category iconGaya Hidup, Keluarga,

Infeksi vagina yang disebabkan oleh jamur dan virus. Dengan mengetahui penyebabnya, infeksi vagina umumnya dapat ditangani dengan baik. Infeksi vagina merupakan kondisi abnormal yang berdampak kepada vagina, baik sebagian maupun keseluruhan. Pada kondisi normal, vagina mengeluarkan cairan berwarna jernih atau sedikit keruh. Cairan tersebut berfungsi membersihkan vagina agar tidak menimbulkan rasa gatal maupun bau.

Baca Juga: Hanum Mega Hamil dan Idap Kista Endometriosis? Ini yang Perlu Moms Tahu!

Gejala Infeksi Vagina

Gejala infeksi vagina sangat beragam, namun yang sering kali muncul adalah:

  • Keputihan berwarna putih atau kuning kehijauan yang berbau tidak sedap
  • Gatal di area vagina atau di sekitarnya, misalnya pada vulva atau labia mayora.
  • Kemerahan dan nyeri di sekitar vagina (vulvitis).
  • Flek atau perdarahan dari vagina.
  • Nyeri saat buang air kecil dan berhubungan seks.

Penyebab Infeksi Vagina

Banyak faktor yang bisa menyebabkan vaginitis. Tetapi pada sebagian besar kasus, vaginitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Keberadaan bakteri di vagina sebenarnya adalah hal yang normal, selama jumlahnya seimbang. Vaginitis terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara jumlah bakteri ‘baik’ dan bakteri ‘jahat’ di vagina.

Selain karena infeksi bakteri, penyebab lain infeksi vagina adalah:

  • Infeksi jamur, akibat perkembangan jamur yang berlebihan di vagina.
  • Iritasi atau reaksi alergi pada vagina, misalnya akibat penggunaan pembersih kewanitaan.
  • Penyakit menular seksual, seperti trikomoniasis, klamidia, dan herpes genital.
  • Penipisan dinding vagina akibat penurunan kadar estrogen, misalnya setelah menopause atau setelah operasi pengangkatan rahim (histerektomi).

Jenis-jenis Infeksi Vagina

Cynthia Krause, MD, asisten profesor klinis kebidanan dan kandungan di Fakultas Kedokteran Mount Sinai di New York City mengatakan ada beberapa jenis infeksi yang umumnya menyerang vagina, misalnya infeksi jamur, bacterial vaginosis, atau trichomoniasis.

Tapi, nyatanya jenis infeksi vagina tidak hanya tiga itu saja. Lalu, apa saja jenis-jenis umum infeksi vagina yang patut Moms waspadai? Yuk, simak pembahasan lengkapnya di bawah ini.

1. Infeksi Jamur

Jenis infeksi vagina yang paling umum adalah infeksi jamur. Gejala infeksi jamur vagina antara lain keputihan, gatal-gatal, dan vulva berwarna kemerahan. Infeksi ini disebabkan oleh jamur genus Candida yang tumbuh secara berlebihan di daerah vagina.

Dari lebih dari 150 jenis jamur Candida, setidaknya ada 15 spesies yang menyebabkan infeksi vagina apabila tumbuh terlalu banyak. Berdasarkan studi yang dilakukan The Lancet, 75% wanita pernah mengalami infeksi jamur pada vagina setidaknya sekali seumur hidupnya dan sekitar 40-50% wanita mengalaminya lebih dari satu kali.

Dalam jumlah normal, Candida yang ada pada tubuh tidak menyebabkan infeksi. Namun, jamur Candida dapat tumbuh secara berlebihan akibat perubahan level hormon karena kehamilan, pil KB, atau menstruasi. Beberapa kondisi lain yang meningkatkan risiko infeksi jamur vagina yaitu gula darah tinggi dan menurunnya kekebalan tubuh akibat sakit tertentu.

2. Bacterial Vaginosis

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Military Medical Research, sekitar 20-30% wanita pada usia reproduktif (15-44 tahun) pernah mengalami Bacterial Vaginosis. Jenis infeksi vagina ini terjadi ketika Lactobacillus spp., bakteri baik yang ada pada vagina, digantikan oleh bakteri anaerob, seperti Gardnerella vaginalis, Mobiluncus curtisii, M. mulieris, dan Mycoplasma hominis.

Infeksi ini ditandai dengan keluarnya cairan pekat atau cairan licin dan jernih dari vagina, disertai bau amis saat berhubungan seksual. Wanita yang sering berganti pasangan ketika berhubungan seks, memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena infeksi jenis ini.

3. Trikomoniasis

Journal of Parasitology Research menyebutkan bahwa setiap tahun ada 250 juta kasus baru yang dilaporkan sebagai trikomoniasis. Infeksi ini disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, parasit protozoa yang menginfeksi saluran urogenital.

Gejala trikomoniasis mirip dengan infeksi vagina lainnya, yakni rasa terbakar, iritasi, kemerahan, dan pembengkakan vulva, dengan keputihan berwarna kuning keabu-abuan atau kehijauan, dan dapat juga disertai dengan bau amis. Beberapa wanita juga mengalami rasa sakit saat buang air kecil.

Trikomoniasis menyumbang hampir setengah dari infeksi menular seksual yang dapat disembuhkan menurut WHO dan penyebarannya terjadi melalui hubungan seksual.

Pada wanita, infeksi jenis ini dapat menyebabkan komplikasi serius pada kehamilan seperti ketuban pecah dini, kelahiran prematur, berat lahir bayi rendah, infertilitas, dan kanker serviks.

4. Chlamydia Vaginitis

Klamidia adalah penyakit menular seksual yang dapat menyebabkan peradangan pada vagina. Moms yang terkena klamidia akan mengalami rasa sakit dan perdarahan pada saat berhubungan intim. Klamidia biasanya tidak memiliki gejala yang jelas sehingga banyak pengidap tidak dapat mendeteksinya sejak awal.

Oleh sebab itu lakukanlah tes penyakit menular seksual setidaknya satu tahun sekali untuk mencegah klamidia atau penyakit lainnya, ya.

5. Gonorrhea

Gonorrhea atau gonore merupakan infeksi menular seksual yang seringkali tidak menimbulkan gejala apapun. Kondisi ini dapat menyebabkan keputihan, nyeri saat buang air kecil, dan nyeri saat berhubungan seks.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Penularan penyakit ini melalui hubungan seks vaginal, anal, atau oral tanpa kondom. Seperti klamidia, penyakit gonore tidak memiliki gejala yang jelas sehingga diperlukan pemeriksaan dokter untuk mengetahuinya.

6. Non-Infectious Vaginitis

Non-infectious vaginitis terjadi ketika kulit di sekitar vagina menjadi sensitif terhadap iritasi akibat pemakaian produk sehari-hari seperti pembalut, sabun, atau deterjen.

Kondisi ini bukanlah merupakan suatu infeksi parah dan dapat dihindari dengan tidak memakai produk-produk yang menyebabkan iritasi tersebut. Bentuk lain dari non-infectious vaginitis disebut atrophic vaginitis. Kondisi ini biasanya terjadi karena kadar menurunnya hormon saat menopause sehingga dinding vagina menjadi lebih tipis dan kering.

Baca Juga: Mengenal Infeksi Klamidia: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

Cara Merawat Vagina yang Tepat

Beberapa langkah berikut ini dapat dilakukan untuk merawat vagina:

  • Selalu menjaga vagina tetap bersih dan kering, termasuk setelah berhubungan seksual.
  • Ketika sedang menstruasi, sering mengganti pembalut.
  • Jika Anda termasuk orang yang aktif secara seksual, gunakan kondom untuk melindungi diri dari penyakit vagina yang timbul akibat infeksi menular seksual.
  • Pastikan celana dalam yang Anda pakai senantiasa dalam keadaan kering dan bersih.
  • Hindari menggunakan celana berbahan nilon, celana jeans ketat, maupun legging. Jenis-jenis celana tersebut tidak mendukung sirkulasi udara yang baik di area organ intim, sehingga bisa memicu penyakit pada vagina Moms. Jika Moms ingin menggunakannya, pakailah celana dalam berbahan katun, seperti MOOIMOM High Waist Maternity Brief yang terbuat dari bahan katun 95%. Celana dalam ini menyerap keringat dengan sempurna serta bahannya sangat breathable.

Dapatkan di www.mooimom.id ya!

Share IconBagikan Artikel

Facebook ShareTwitter Share
YOU MAY ALSO LIKE