Mamapedia Logo
Bayi Ngulet, Mestikah Diwaspadai?

Bayi Ngulet, Mestikah Diwaspadai?

author iconIka
date icon12 03 2021
category iconKehamilan & Menyusui, Menyusui, Tumbuh Kembang Anak,

Banyak katanya yang harus dihadapi ibu baru. Termasuk juga saat Si Kecil ngulet. Acapkali ngulet dikaitkan dengan bajunya yang diperas terlalu keras. Padahal, ngulet merupakan refleks tubuh yang wajar. Baru saatnya diwaspadai ketika bayi sering ngulet sampai badannya melengkung, menangis tanpa henti, dan menendang-nendang terus sehingga tidurnya gelisah. Bayi ngulet kerap terjadi saat usianya dua hingga tiga bulan dan biasanya terjadi saat usianya di bawah setahun.

Manfaat Ngulet

Peregangan (ngulet) merupakan perkembangan keterampilan motorik pada bayi. Gerakan ini dapat memperkuat otot kaki bayi untuk membantunya berguling atau mengubah posisinya. Ini adalah perkembangan yang biasanya terjadi pada bayi usia 4 sampai 6 bulan. Ngulet juga bisa jadi tanda bayi sedang meregangkan otot dan sendi mereka. Ini karena otot dan sendi bayi masih berkembang, sehingga ia perlu meregangkan tubuhnya lebih sering. Bayi dapat meregangkan tubuh umumnya mulai terjadi pada usia 3 bulan. Namun, kondisi dan perkembangan pada setiap bayi berbeda, sehingga umur tersebut tidak bisa dijadikan patokan.

Tanda Bahaya

Meski normal bagi bayi baru lahir, rupanya terlalu sering ngulet atau menggeliat juga dapat menjadi tanda kondisi yang serius. Selain merupakan refleks atau kondisi normal yang kerap terjadi pada bayi, sering ngulet juga bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi seperti:

Kembung

Jika bayi sering ngulet sampai badannya melengkung disertai dengan sering kentut dan sendawa, maka mungkin bayi mengalami perut kembung. Ngulet dilakukan untuk mendorong keluar gas yang sudah menumpuk di dalam perut. Tanda lain yang sering menyertai perut kembung pada bayi adalah sering keluarnya gumoh terutama saat bersendawa. Ini bukanlah kondisi yang perlu dikhawatirkan selama bayi tidak rewel dan kesakitan. Setelah ngulet untuk kentut, bayi akan merasa lebih tenang dan perutnya lebih lega. Keluhan ini akan semakin jarang terjadi seiring usia bayi bertambah.

Konstipasi

Konstipasi bisa menjadi salah satu penyebab bayi tidur gelisah dan ngulet dengan gejala mengejan atau mata melotot. Pola buang air besar bayi baru lahir sampai beberapa minggu setelahnya belum teratur. Awalnya bayi yang menyusu ASI bisa saja tidak buang air besar selama beberapa hari. Sebab, ASI dapat terserap sempurna oleh tubuh. Hal ini ini tergolong normal jika bayi tidak rewel atau mengalami keluhan lain. Namun, bayi yang minum susu formula perlu buang air besar hampir setiap hari. Bila pola buang air besar bayi tidak seperti biasanya atau menjadi jarang BAB, feses tampak kering dan padat, maka kemungkinan Si Kecil mengalami konstipasi. Jika bayi mengalami gejala sembelit, segera periksakan ke dokter karena kondisi ini membutuhkan penanganan khusus.

Kolik atau Refluks

Kondisi kolik atau refluks pada bayi bisa menyebabkan Si Kecil nangis terus-menerus lebih dari tiga jam sehari selama setidaknya tiga hari sepekan dan kondisi ini dapat berlangsung selama 3 pekan atau lebih. Selain itu, bayi yang sering mengulet sampai badannya melengkung bisa menandakan ia sedang kesulitan mencerna makanan. Jika bayi mengalami kondisi ini, ia akan menangis keras dengan mendengus dan mungkin akan diikuti dengan demam. Jika bayi mengalaminya, maka segeralah berkonsultasi ke dokter.

Otot Tegang

Bukan hanya orang dewasa, bayi juga bisa mengalami otot yang tegang. Kondisi ini bisa saja terjadi ketika orangtua menggendong bayi dalam posisi yang salah sehingga menyebabkan dislokasi bahu atau patah tulang klavikula. Jika bayi mengalami kondisi ini, ia akan menangis dan menunjukkan gejala peregangan ke arah tertentu yang berhubungan dengan sumber sakit. Jika bayi meregang dan menangis setiap kali ia bangun, maka sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Nyeri pada Pusar Bayi

Penyebab selanjutnya yang membuat bayi sering ngulet harus diwaspadai adalah adanya infeksi pada pusar atau tali pusat. Jika bayi mengalami kondisi ini, ia akan sering meregang dan menangis pada saat bersamaan. Nyeri pada pusar biasanya akan diikuti dengan gejala lainnya seperti pusar terlihat bengkak, memerah, atau mengeluarkan cairan yang berbau.

Share IconBagikan Artikel

Facebook ShareTwitter Share